31 Hari Menulis

Hari #3: Segelas Susu Hangat


Rene menonaktifkan Blackberrynya. Rentetan PING beruntun itu membuat kepalanya berdenyut lebih parah. Tidak bisakah dia memiliki satu hari bedrest tanpa diganggu? Tentu saja tidak. Bagi seorang junior brand manager perusahaan selevel P&G yang sedang berada di puncak karirnya, absen sehari saja di kantor adalah hal tabu. Setabu mirasantika bagi Rhoma Irama. Tapi hari ini Rene benar-benar ingin off dari segala hiruk pikuk pekerjaannya. Perkara ia akan kena semprot karena mengajukan cuti sakit di minggu padat dimana akan ada agency yang pitching untuk produk mereka, biarlah itu ditanggungnya keesokan hari.

Dengan segenap tenaga yang dipaksakan untuk ada, Rene beringsut dari tempat tidurnya ke kulkas kecil di dapur apartemennya. Kepalanya begitu berat, sampai hampir sempoyongan menabrak sisi karpet tebal yang terlipat di dekat sofa pastel kesayangannya. Rene bahkan tidak punya cukup tenaga untuk mengumpat ketika susu UHT dingin yang dicarinya di kulkas ternyata sudah habis. Perutnya belum diisi dari pagi. Influenza yang dianggapnya sepele sejak semalam ternyata jadi bumerang yang mematikan produktivitasnya hari ini.

Menyambar jaket di gantungan pintu dengan asal, Rene pergi mengetuk apartemen di sebelahnya.

“Uprit.. Prit..”

Pintu membuka. Suprianto, seorang laki-laki yang sudah 4 tahun terakhir bertetangga dengan Rene berdiri di depan pintu. Kemejanya sudah rapih, tangannya memegang dasi biru muda yang belum tersimpul sempurna.

“Ren, kamu nggak ngantor?”

“Gue kena flu parah. Lo masih ada persediaan susu nggak? Gue minta ya.”

“Ya ampun Ren. Look at you, udah kayak bayi singa. Ada tuh di kulkas, kamu masuk aja sini.” Supri membukakan pintu lebar. Rene menghambur tanpa basa basi dan membuka kulkas, menuangkan susu dingin ke dalam gelas. Menenggaknya sampai tandas.

“Saya ada meeting pagi. Nggak bisa nemenin kamu lama-lama disini. Kalau keluar, kunci apartment ditaroh di tempat biasa ya.” Supri memegang kening Rene. Yang diajak ngobrol cuma ngangguk dan ngeloyor membenamkan diri ke sofa. Sudah biasa, apartment Supri dianggap oleh Rene sebagai perpanjangan apartmentnya. Ruang santai ketika ruang miliknya penuh suntuk. Ruang yang selalu tertata rapi yang kontras dengan ruangnya yang berantakan. Ruang yang lenggang di sebelah ruangnya yang penuh barang. Tempat pertama yang ia datangi saat butuh perubahan suasana hati.

“Ren, saya pergi dulu ya.” Supri menenteng tas keluar pintu.

“Saya.. saya.. gue kan bukan klien lo, Uprit!” Rene manyun. Sudah bertahun-tahun kenal dekat tapi pria di hadapannya itu tetap saja tidak bisa meninggalkan budaya sopan santun Jawa yang dianutnya sejak dahulu kala, termasuk perihal berinteraksi dengan panggilan kamu-dan-saya. Padahal ini Jakarta. Padahal Rene teman dekatnya.

Supri hanya memeletkan lidah, lalu menutup pintu. Klik.

Itu dia. Suprianto selalu sederhana. Walau 6 bulan lalu dapat promosi sebagai financial manager di Arajuez, ia tetap sama seperti pertama kali Rene mengenalnya. Saat itu Rene baru pindah ke sini, kerepotan memindahkan barang, dan salah mengenalinya sebagai petugas kebersihan apartemen sini. Mau bagaimana lagi, namanya Suprianto! Dan saat itu ia mengenakan kemeja usang yang warnanya serupa dengan petugas-petugas lain di apartement ini.  Baskin Robinsnya yang tumpah di koridor adalah awal perkenalan mereka. Rene tanpa basa-basi menyuruhnya mengepel lantai. Saat pria itu sudah selesai membantunya membersihkan tumpahan di lantai, ia dengan santun menunjukkan pintu apartmennya yang terletak tepat di sebelah pintunya. Ampun, Rene salah tingkah. Malu setengah mati.

Namun sejak itu mereka jadi dekat. Rene bahkan memanggilnya Uprit, karena nama Supri mengingatkannya pada kejadian petugas kebersihan itu.

Mendadak udara di ruangan itu menjadi terlalu dingin. Rene meringkuk di sofa, mencari posisi yang lebih hangat. Biasanya jika flu, mamanya sering membuatkan susu hangat dicampur madu. Kemudian mama memeluknya. Itu adalah obat paling manjur dari segala obat. Tapi sejak mama meninggal dan Rene bekerja di Ibukota, sakit adalah hal terakhir yang diinginkannya. Karena ia akan tertinggal pada kesendirian dan dipaksa mengingat. Dan semua usahanya yang menjadi workaholic demi tidak menyediakan waktu untuk otaknya sekedar sempat melankolis. Dari 25 tahun kehidupannya, hampir setiap orang menyebutnya wanita tangguh. Ia adalah tipikal anak kecil yang berani mendamprat teman yang membawa mainannya tanpa izin. Pahlawan angkatan yang berani melawan kakak kelas yang menindas secara tidak rasional atas nama senioritas. Bintang sekolah yang sering ikut berbagai kejuaraan debat. Mahasiswi berprestasi yang selalu terlibat berbagai organisasi. Semua bilang ia anak hebat. Cuma satu yang bilang ia anak manja, mama.

Jatuh sakit bagi Rene lebih dari siksaan fisik, ia menderita secara emosional. Ia merindukan inangnya. Ia rindu dimanjakan.

Ketukan hujan di kaca membangunkan Rene. Jam menunjukkan pukul 15.00. ia tertidur sepanjang hari ternyata. Tengkuknya basah oleh keringat. Nafasnya terengah-engah. Ingat penyakit asma yang dideritanya sejak kecil, perlahan, Rene mendekati jendela. Membukanya dan membiarkan sesaknya mengudara.           Ia ingat hujan di pinggiran sawah dekat rumah masa kecilnya.

Ia ingat mama yang membesarkannya tanpa tahu papa dimana.

Ia ingat gunjingan tetangga yang membuatnya murka. Yang membuatnya apatis kepada laki-laki.

Lalu ia ingat cinta pertamanya, orang yang cuma berani dihindarinya lantaran takut terluka seperti mama. Orang yang sama yang sampai saat ini ditunggunya. Orang yang memang pada akhirnya membuatnya terluka. Karena saat ia cukup dewasa untuk mengakui perasaannya, orang itu tertawa dan mengiranya bercanda. Katanya Rene mana mungkin mau padanya. Terlalu tidak terjangkau. Lagipula, perempuan mandiri berbahaya untuk ego laki-laki, katanya.

Mulai saat itu Rene tidak mau jatuh cinta. Ia bahkan tidak mau ingat rasanya seperti apa. Seperti saat ini, yang diingatnya hanya luka. Sialnya, ia pun sadar bahwa ia butuhkan saat ini cuma orang yang mau memeluknya seperti mama. Tapi orang seperti itu bisa ditemukan dimana?

Seseregukan karena emosi yang tidak stabil, Rene tertidur masih dengan berlinang air mata.

Ia bermimpi. Mimpi tentang kupu-kupu. Warnanya biru. Dikejarnya setengah mati, tapi kupu-kupu itu tetap berada di jarak yang terlihat namun tidak terjangkau. Ia ingin memegang sayapnya yang berkilau, tapi untuk melihatnya pun silau. Ia menutup mata, merasakan desir udara di kepak langkahnya. Baru ia sadari, kupu-kupu itu adalah dirinya.

Rene terbangun oleh gelitikan kecil di ujung hidungnya. Samar-samar ia membuka mata dan menemukan Supri masih dalam setelan yang sama dengan yang dipakainya saat pamit pergi. Lihatlah, ia tertidur di ruang tamu orang, bahkan belum gosok gigi dari pagi.

“Damai banget non tidurnya. Mau bangunin nggak tega.” Celetuk Supri.

“Prit. Gue mimpi jadi kupu-kupu.” Sela Rene. Seketika disesalinya. Supri pasti mengiranya masih mengigau.

“Kemarin saya juga mimpi jadi labu kok.”

Rene tertawa. Orang normal pasti sudah mengabaikan igauannya, bukan malah menanggapi dengan igauan yang lebih aneh lagi. Supri memencet hidung Rene demi menghentikan tawa gadis itu. Ia kemudian ke dapur. Terdengar bunyi gemericik air.

“Prit.”

“Ya?”

“Gue kangen mama. Dulu waktu kecil gue sering nangkep kupu-kupu. Terus dibebaskan lagi sama mama. Katanya, biar dia terbang tinggi.”

“Hmmm..”

“Prit, nggak enak ya jadi kupu-kupu. Bukan karena banyak yang pengen nangkep, tapi justru karena banyak yang nggak bisa nangkep kalo udah terbang. Ketinggian.”

Supri muncul dari dapur. Di tangannya segelas susu hangat.

“Bukan karena ketinggian. Tapi karena orang-orang terlalu sayang untuk melihat dia tidak terbang bebas. Toh kupu-kupu juga akan istirahat ke bunga kalau dia lelah terbang. Nih, minum susunya.”

Satu teguk. Rasa madu. Rene memandangi gelas susu itu, sebentuk visualisasi muncul di benaknya. Padang bunga yang selama ini dicarinya dari ketinggian, terbentang luas di depan matanya.

Tidak kepada semua orang Rene bisa menceritakan mimpinya. Tidak kepada semua orang Rene rela ngobrol ketika belum mandi dari pagi. Tidak kepada semua orang Rene bisa tertawa dan merasa punya hak untuk manja. Kecuali pada mama, dan satu pria di depannya. Seperti baru terbangun dari mimpi panjang, Rene berujar dengan mantap.

“Saya….” Lidahnya kelu mengucapkan kata ganti orang pertama yang selalu digunakan Supri itu. “Saya… sayang kamu, Prit.”

Rene memeluk Supri erat. Supri melongo, sibuk mencerna apa yang terjadi. Kemarin malam tiba-tiba dititipi cincin berlian oleh teman lamanya, Jaka. Malam ini dibilang sayang oleh tetangganya. Dari kupu-kupu, susu, lalu pelukan. Gadis ini benar-benar sakit nampaknya. Dunia pun sedang gila ternyata.

Tapi Rene tidak peduli. Ia menemukan apa yang ia cari. Rumah itu, ada di dasar gelas susu hangat ini.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s