31 Hari Menulis

Hari #2: Setengah Porsi Lasagna


Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Jaka berencana, seporsi besar Lasagna yang menentukan. Atau paling tidak, setengah porsi yang membuat seorang wanita bernama Ana perang hormon. Setengahnya lagi ditinggal dingin sampai basi, terserah tangan Tuhan mau digunakan untuk rencana apa lagi.

Malam ini akan jadi scene nyata yang ditulis Walter Lord sebagai a night to remember. Seperti sebuah drama romantis dimana seorang laki-laki bersimpuh di hadapan seorang wanita dan memintanya jadi pendamping hidupnya. Seperti harmonisasi biola dan cello yang mengalun saat mata sang wanita berkaca-kaca dan ikut besimpuh memeluk pria dihadapannya, terlalu kaget untuk sekedar mengatakan iya. Seperti cincin yang kelonggaran tapi mereka berdua tidak peduli. Karena malam ini adalah malam dimana kesadaran baru dimulai. Ada sesuatu yang jauh lebih besar lagi telah menanti. Kesadaran itu akan mengalir dalam momentum satu tarikan nafas, lalu membuncah sampai terasa pecah di paru-paru. Sesak karena bahagia. Karena malam ini adalah malam dimana Jaka ingin melamar Ana.

Untuk seorang junior lawyer di sebuah lawfirm terkemuka seperti Jaka, 27 tahun hidupnya adalah tentang mencari kesetaraan. Karena itu, tiga tahun lalu ketika bertemu dengan Ana yang bersisian duduk dengannya di kursi penonton debat politik kandidat calon gubernur, Jaka tahu mereka sewarna. Kritik Ana tentang strategi defensif yang digunakan oleh pihak oposisi sama persis dengan apa yang baru saja muncul di pikiran Jaka. Jaka tahu mereka senada. Dan ketika mengobrol lebih lanjut dan mengetahui fakta bahwa Ana berprofesi sebagai jurnalis, Jaka tahu mereka setara.

“Saya pesan Lasagna.” Kata Ana mantap. Dahi Jaka berkerut.

“Lasagna? Bukannya sebelum berangkat kamu mengatakan ingin makan Fu Yung Hai?”

“Saya berubah pikiran.”

“Tapi kamu sudah ingin Fu Yung Hai itu sejak dua hari yang lalu.”

“Ya saya sekarang mendadak tidak menginginkannya lagi.”

“Why?”

“No reason. Why why?”

Nothing. Kalau begitu saya saja yang pesan Fu Yung Hai.” Jaka mengisyaratkan kepada waitress. Kalau saja Ana tidak sibuk membolak-balik menu makanan, ia pasti akan melihat Jaka mengedip dan dibalas dengan senyuman oleh sang waitress. Kedipan ini bermakna besar. Sebesar makna sandi morse bagi anak pramuka Indonesia. Jika didecode akan menjadi sebuah pesan yang kira-kira berbunyi seperti ini,

“Jangan lupa. Ketika dessert datang, sertakan cincinnya di dalam gelas champagne.”

Senyum yang diberikan sang waitress pun tidak kalah besar maknanya. Sebesar makna sumpah pemuda butir ke-empat yang berbunyi,

“Kami putra-putri yang bekerja di restoran ini, berjanji akan menjalankan rencana sesuai amanah. Semoga lancar tuan! Ngomong-ngomong calonnya cantik sekali. Anda beruntung sekali” Lalu ia ngeloyor pergi.

Ruangan itu kuning temaram. Ada sesuatu yang kurang menentramkan, Jaka mengartikannya dengan perasaan grogi yang tidak berkesudahan. Sampai pesanan mereka datang. Jaka beranjak ke kamar kecil untuk menenangkan degup jantungnya. Saat berjalan melintasi ruangan ia tersandung buku yang dijatuhkan seorang wanita yang duduk sendiri di samping jendela. Berbarengan minta maaf, sudut matanya menangkap coretan di tissu yang bertebaran di atas mejanya. Meimei. Ditulis dalam berbagai sudut. Mungkin itu namanya, mungkin itu nama temannya, mungkin itu cuma tokoh fiktifnya. Apapun, Jaka melemparkan senyum sopan kepada wanita tersebut. Semoga sebuah senyum dari orang asing setidaknya bisa menyemangati si penulis nama Meimei ini yang matanya sembab oleh air mata.

Jaka kemudian kembali ke mejanya. Sendu karena sorot mata wanita yang baru saja dilihatnya, ia tidak sabar melihat kembali mata kekasihnya yang bersinar. Ternyata pesanan mereka sudah terhidang di meja. Lasagna dan Fu Yung Hai.

“Buat orang-orang di luar sana, Lasagna berarti agenda setting. Tiba-tiba saja populer. Padahal dulu makan nasi goreng di pinggir jalan pun cukup. Lalu Lasagna hadir dan entah ide siapa tiba-tiba standar fancy dinner harus di restoran seperti ini. Kita sedang dirancang jadi boneka kapitalis atas nama lifestyle.” Kata Ana serius. Sedetik kemudian dia melanjutkan, “Tapi, peduli amat. Saya lapar.”

Jaka tergelak.

“Ah, saya ingat seorang klien. Dia awalnya susah sekali didekati untuk mendapatkan informasi. Tidak sengaja saya temukan pola bahwa dia sangat senang makan Lasagna. Kali berikutnya kami meeting bersama, saya bawakan ia seporsi besar, kemudian meeting menjadi sangat lancar. Saya dapatkan informasi yang saya butuhkan.” Jaka bercerita.

“Haha. Saya berharap saat ini kamu tidak sedang menerapkan taktik yang sama kepada saya.” Ana tertawa.

“Buat klien saya, Lasagna berarti negosiasi. Buat kamu, Lasagna berarti diskusi. Diskusi tidak butuh taktik. Cuma butuh sedikit usaha buat mikir. ”

“Dan kesabaran!”

“Iya. Dan kepatuhan. Karena partner diskusinya kamu. Galak.”

“Sialan. Haha. Kamu tahu tidak, makan Lasagna bisa menimbulkan perasaan jadi orang paling beruntung sedunia!” Kata Ana pada suapan pertama.

“Bagaimana bisa?” Jaka memperhatikan.

“Seperti ini.” Ana menyuap sesendok penuh Lasagna hangat kepada Jaka. Tekstur mozarella-nya mencair di langit-langit mulut, mengikatnya lembut. Ana mengusap dagu Jaka pelan, lalu kembali ke piring makannya. Sebelum terpikat lebih jauh, Jaka buru-buru bicara. Malam ini pesonanya harus lebih dominan. Tidak boleh kalah dari sesendok Lasagna dengan efek sugesti. Walau ketika melihat senyum kekasihnya di depannya, dengan berat ia mengakui, ia memang sedang merasakan jadi orang paling beruntung sedunia.

Mereka melanjutkan makan. Bryan McKnight mengalun pelan sesuai pesanan rahasia. Marry Your Daughter. Ana terdiam lama sambil mengunyah lambat-lambat. Mengukur perubahan ekspresi yang terbaca di wajah Ana, Jaka menerka-nerka. Apakah yang sedang ada di pikirannya. Tiga tahun bersama, sedekat apapun ia dengan wanita di depannya, ada momen-momen tertentu dimana ia merasa tidak mengenalnya. Momen dimana pikirannya tidak terterka. Irois adalah ketika akses ke apartemennya pun sudah leluansa, masih saja ada ruang-ruang di kepala Ana yang Jaka tidak dapat datang kesana. Seperti saat ini, Ana melamun sendiri. Jaka hanya bisa menemani dan menunggui.

Lalu tiba-tiba.

“Saya kenyang.” Ana menuntup sendok dan garpunya di atas setengah porsi Lasagna yang tersisa. “Jaka. Ini mungkin terdengar sangat mengejutkan. Tapi kamu dengar saya baik-baik, oke?”

Jaka mengangguk. Ada apa pula ini.

Ana menatap lekat-lekat, “Will you marry me?”

Jaka tersedak. Dilatihnya empat kata itu semingguan. Kenapa malah dari mulut Ana ia meluncur tanpa ragu?!

“Ini ceritanya… kamu propose ke saya?”

“Iya, Jaka. Iya. Tidak ada yang salah bukan jika yang melamar perempuan? Ini memang spontan. Tidak ada persiapan. Tapi sepersekian detik barusan saya sadar, now I know what I want for the rest of my life. You.”

Dua gelas champagne terhidang di meja mereka. Rencana Jaka berantakan. Tapi tidak seberapa dibanding perasaannya dan kesadarannya yang berputar haluan.

“Saya tidak bisa, Ana.”

Ana terdiam. Sebuah gelombang penolakan tidak kasatmata menghantamnya.

“Lihat gelasmu, Ana. Sejam yang lalu saya ingin melamarmu saat ini. Saya sudah sangat yakin pada rencana ini kecuali satu hal yang saya tidak tahu apa. Tapi barusan, akhirnya saya mengerti. Kita memang tidak bisa menuju kesana.” Jaka memandangi cincin berlian yang tenggelam di dasar gelas.

“Kenapa?”

“Karena kamu terlalu impulsif, Ana. Kemarin kamu bilang ingin Fu Yung Hai, lalu sekejap kamu memutuskan untuk memilih Lasagna. Kamu bilang ingin menghabiskannya, tapi akhirnya kamu tinggalkan dia bersisa. Selalu seperti ini sepanjang waktu. Kamu berubah-ubah. Siapa yang bisa menjamin ketika kamu bilang ingin menikah denganku hari ini, besok kamu akan terbangun dengan perasaan yang sama? Siapa yang bisa menjamin ketika hari ini kamu melamar saya, ketika menikah kamu tidak akan meninggalkan saya? Siapa yang bisa menjamin saya bukan Lasagna, yang kamu pilih secara spontan, lalu kamu abaikan di tengah perjalanan?”

Tiga tahun bersama, Jaka belum pernah menyaksikan Ana menangis. Ia sebegitu kuatnya mengatur dirinya untuk menjadi sosok yang tangguh. Tapi malam ini memang ada yang mengacau-balaukan kompleksitas dan kapabilitas manusia untuk mengorganisir. Rencana Jaka berantakan, Ana tersedu sedan. Kemudian pada suatu titik mereka berpandangan dan tertawa berbarengan. Awalnya tawa frustasi, lama-lama jadi ringan dan membebaskan.

“Aku menangis bukan karena kamu tolak, Jak. Ini karena aku baru sadar, kamu benar.”

“Sini, kemari.” Jaka membentangkan tangannya untuk memeluk Ana. Mereka berpelukan sambil tertawa. Apa yang baru terjadi memang di luar kendali dan tidak biasa terjadi. Tapi ketika menatap satu sama lain lagi, mereka sudah saling mengerti. Betapa aneh cara semesta menyampaikan pesan, kadang-kadang.

Cincin itu dikembalikan Ana kepada Jaka. Kemudian oleh Jaka diberikan kepada orang pertama yang dilihatnya masuk ke restoran itu. Supri, teman lamanya. Supri kebingungan, masuk-masuk disodori cincin berlian, ditanyakannya apakah di restoran ini sedang ada undian berhadiah atau apa. Jaka dan Ana tertawa saja. Mereka berdua melangkah enteng keluar, berpegangan tangan. Masih dengan perasaan yang sama. Hanya saja malam ini pemahaman di antara mereka berdua, telah jauh berbeda.

Advertisements
Standard

5 thoughts on “Hari #2: Setengah Porsi Lasagna

  1. Not sure if this is the Italian food, but if it is, I believe it should be Lasagna instead of Langsana. And I’m not really sure if you’re talking about sparkling wine used for celebration, but if it is, I believe it should be champagne instead of champaign.

    • Whoaa, me hail kak Diko! This is exactly what i expect. a constructive input. You don’t know how much it means to me. Thanks. Haha. Pardon the mistakes, i wrote it in a hurry 2 hours before midnight. Deadline pressure, no time to recheck.
      Now i’m gonna fix it up. Yay!
      I am gladly wait for another comments 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s