31 Hari Menulis

Hari #1: Meimei di Bulan Mei


Namanya Meimei.

Seperti Agusta yang lahir di bulan Agustus, Aprilia yang lahir di bulan April, Febriani yang lahir di bulan Februari, Meimei tentu saja lahir di bulan Mei. Tapi kau tidak akan menemukan Agustagusta, Aprilaprilia, atau Febrifebriani. Kau cuma akan menemukan satu Meimei, dengan Mei diulang dua kali. Dan ketika Meimei menuliskan tanggal di lembar soal ulangannya, di tandatangan ijazahnya, di kontrak kerjanya, di slip gaji pertamanya, akan ada triple Mei.

Yogyakarta, 1 Mei 2012. Tertanda, Meimei.

Dan itu mengerikan.

Menurut Meimei, repetisi dalam namanya adalah inkonsistensi. Seperti orang latah yang mesti menyebut segala sesuatunya berulang kali. Seperti anak keterbelakangan mental yang harus sedang menghapalkan nama bulan dengan hati-hati. Seperti pantulan suara di dinding rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Seperti ia tidak diizinkan memiliki identitas tunggal yang murni miliknya sendiri. Seperti dirinya terbagi.

Meimei tidak pernah mengulang apapun di dalam usahanya untuk tumbuh. IQnya diatas rata-rata. Ingatannya fotogenik. Ia tidak perlu mengulang nama-nama latin, tanggal-tanggal peperangan, indeks bias matematis, tabel periodik untuk sekedar mengingat dan lulus setiap ujian dan melaju ke olimpiade tingkat internasional. Jika melakukan kesalahan, ia pantang mengulanginya kembali. Jika melakukan keberhasilan pun, ia tidak mengulang, ia meningkatkan dengan standar yang jauh lebih mengagumkan. Dalam memberikan komando pun, Meimei sangat jarang memberikan instruksi ulang. Bekerja dengannya berarti tuntutan esktra cepat dan ekstra sigap.

Tapi namanya Meimei. Repetisi dari Mei. Dua kali.

Meimei benci angka dua. Kucingnya yang beranak dua dulu diberikannya satu kepada orang. Lampu kamarnya yang berjumlah dua tak pernah dihidupkannya bersamaan. Sepatu beludrunya yang ternyata sama seperti sahabatnya lantaran beli saat diskon, sampai sekarang tidak pernah dipakainya. Baginya, pantang hidup tanpa jadi nomor satu. Dan dua hanyalah bayangan yang tidak pernah kelihatan. Kecuali satu hal. Fakta bahwa sudah dua tahun Meimei hidup sebagai si nomor dua dalam hidup Petra.

Petra dan Memei bertemu dalam sebuah perjanjian bisnis antar perusahaan. Setelah proyek bangunan yang mereka tangani bersama sukses, perusahaan kontraktor tempat Petra bekerja memperpanjang kontrak. Jadilah Petra dan Memei bertemu lagi dalam intensitas yang lebih sering dan sayangnya, lebih intim. Memei dengan level intelegensianya tentu saja mengerti, Petra sedang dalam masa puber kedua. Memei pun sedang dimabuk asmara oleh pria yang baginya tidak lebih dari sempurna ini. Dia bisa tertawa oleh bercandaan Memei yang biasanya diterima dengan satu alis diangkat ke atas oleh rekan-rekan sepantarannya, dan membalasnya dengan kata-kata yang cerdas. Pemikirannya sangat out-of-the-box. Badannya tinggi tegap, dan bau parfumnya selalu tercium samar. Tapi Petra sudah beristri. Yang membuat Meimei makin patah hati adalah, namanya Juni. Ya, Juni saja. Tanpa embel-embel Juni satu lagi di belakang namanya. Tidak adil! Juni berdiri sendiri, plus, dia dapat posisi nomor satu untuk Petra.

Seperti malam ini, Meimei sudah berdandan cantik dan menunggu manis di sebuah restoran untuk candlelight dinner, saat Petra menelfonnya.

“Meimei maaf. Aku lupa, ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-12. Hari ini Juni sudah menyiapkan surprise. Aku tidak bisa datang.” Kemudian telfon diputus tanpa menyediakan waktu untuk Meimei berbicara.

Bahkan di bulan Mei, bukan Meimei yang berkuasa. Ia lunglai sendiri, dengan nama yang bergema dan cinta yang tidak pernah jadi yang utama. Membayangkan Juni yang akan berada di seberang meja dinner bersama pria impiannya, berpegangan tangan, berciuman dan berkata, “Sayang, aku cinta bulan Mei.”

Jika nama adalah doa. Kenapa ia didoakan untuk dengan ganda? Apakah tunggal tidak cukup baginya? Apakah dengan jadi satu, hilang eksistensinya? Lantas bagaimana jika ia yang jadi nomor satu bagi Petra? Akankah laki-laki itu tetap pergi dan mencari perempuan nomor dua?

Di bawah lampu temaran restoran mahal itu, Meimei menulis namanya di atas tissu. Suka tidak suka, orang mengenalnya sebagai Meimei. Jika hilang satu, namanya jadi nama bulan ke-empat di kalender masehi. Jika hilang satu, ia tidak punya identitas untuk diakui.

Jika memang yang diinginkannya hanyalah cinta yang satu, maka memang dirinya yang harus hilang. Seperti itu.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s