Inner Thought

20


20.

Dalam numerologi, angka 20 bisa jadi adalah angka cantik yang punya banyak interpretasi. 2 sebagai angka penggenap, dan 0 sebagai angka restart, akan memiliki makna dahsyat jika berdampingan. Genap kembali ke titik awal. Begitulah kira-kira. Bukan tanpa alasan juga Bambang Pamungkas begitu cinta dengan seragamnya yang bernomor punggung 20 bukan?

Tapi saya bukan Bambang Pamungkas. Saya tidak punya alasan spesifik untuk menyukai angka 20. Cuma kebetulan saja, kemarin saya akhirnya berusia 20 tahun. Menambahkan satu digit lagi ke nominal sebelah kiri, dari belasan jadi puluhan itu aneh. Jujur. Saya sudah terlalu terbiasa dengan titel remaja yang melulu ditempelin akhiran ā€“teen. Seventeen, eighteen, nineteenā€¦ eh kok tiba-tiba sudah twenty!

Time flies. That what’s people said.

Benarkah?

No, time doesn’t flies. Our consciousness does.

Kalau mengingat-ingat lagi apa yang sudah dilakukan selama ini, memang nggak akan merasa cukup. Terlalu banyak “what if.. what if…” yang bakal terbayang.Ā Ada beberapa hal yang saya sadari baru bisa dicerna melalui proses penerimaan dan pembelajaran yang panjang. Wisdom. Saya merasa kedewasaan tidak ada hubungannya dengan umur. Kebijaksanaan tidak ada sangkut pautnya dengan usia.Ā Kalau sebelum-sebelumnya setiap ulang tahun selalu bikin renungan, terus list resolusi, sekarang saya merasa tidak punya urgensi untuk itu. Apa ya, mungkin semakin beranjak dewasa semakinĀ ngerasa yaudahlah ya, jalanin aja hidupmu dengan bahagia.

Kalau pertanyaannya apakah saya bahagia? Ya! Tentu saja. Maafkan jika saya sok tahu, tapi sepertinya kebahagiaan tidak bisa didapatkan dengan mudah oleh semua orang. Ada saja orang yang hidupnya sudah berjalan seperti apa yang ia inginkan, tapi tidak bahagia. Ada orang yang bahagia, tapi apa yang ia inginkan tidak bisa tercapai dengan lancar.Ā Alhamdulillahnya semua yang saya inginkan so far bisa tercapai, lebih bahkan, saya pun bisa bahagia setiap hari dengan rutinitas dan lingkungan seperti ini.

Merasa cukup? Oh tentu tidak. Namanya juga manusia. Change is our nature. Kita selalu dan selalu berusaha untuk jadi lebih baik lagi. Satu hal tapi yang sedang berusaha saya tanamkan baik-baik, jangan sampai dalam usaha untuk mengupgradeĀ hidup, kita justru mendegradate hidup orang lain. Jangan, jangan sampai! Orang-orang di sekitarmu adalah kunci kebahagiaanmu. Kualitas hidupmu akan sangat tergantung kualitas hidup orang-orang yang kamu sayangi.

Makanya, seiring dengan umur baru ini, ada kesadaran baru pula yang muncul dalamĀ consciousnessĀ atau kesadaran saya. Hidup harus seimbang. Tahu kapan harus fokus ke diri sendiri, kapan harus berorientasi sama orang lain. Kapan harus menyendiri, kapan harus bersosialisasi. Kapan harus egois, kapan harus berbagi. Kapan harus bertingkah dewasa, kapan harus jadi kanak-kanak lagi.

Terakhir. Apa rasanya berumur 20?

Biasa saja. Haha.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s