Inner Thought

Sebuah Renungan: Belajar dari Onde-Onde


Ada sebuah makanan khas Indonesia yang sangat populer, namanya kue onde-onde. terbuat dari tepung terigu ataupun tepung ketan berisi pasta kacang hijau, yang digoreng dan kemudian permukaannya ditaburi dengan biji wijen. Kue ini dalam perkembagan pertatabogaannya telah dikembangkan dalam beberapa variasi. Namun, sejauh apapun improvisasinya, onde-onde tetap disertai dengan taburan biji wijen. itu ciri khasnya.

Nah sekarang bayangkan jika onde-onde tidak dibalur dengan biji wijen? polos dan telanjang begitu saja, meski bentuknya tetap bulat, warnanya kecoklatan, dan isinya pasta kacang hijau.
apakah teman2 masih bisa mengatakannya sebagai onde-onde?

Bagaimana jika penjualnya bersikukuh dan bersikeras bahwa itu adalah onde-onde? mungkin beberapa pura-pura percaya saja dan mengiyakan untuk mengalah, menyenangkan, dan tidak menimbulkan konflik dengan penjual kekeuh tersebut. Namun saya yakin ada beberapa pula dari golongan skeptis yang akan mendebat si penjual dengan mengatakan bahwa sebagaimanapun onde-ondenya kue tersebut, namun tetap itu bukan onde-onde. karena tools paling esensialnya, dalam hal ini para biji wijen, absen dari permukaannya. Alasan simpel ini menegaskan bahwa kue tersebut telah gagal dalam membuktikan eksistensinya sebagai onde-onde sejati. (duileee!!)

Dari analogi ini, saya belajar sesuatu. Kenapa biji wijen yang bahkan tidak pernah mendapat fokus perhatian, yang bahkan terkesan tidak berguna, yang merepotkan, yang rasanya saja hampir tidak terasa, menjadi bagian yang sangat penting dalam entitas ini? Kenapa wijen yang saat ada malah tidak pernah dielu-elukan, namun saat tidak ada malah dicari-cari? Kenapa terigu dan pasta kacang hijau yang menjadi aktor dominan dan superpower disini malah kemudian menjadi tidak punya nama hanya karena aktor garda belakang bernama wijen?

Identitas. Ini adalah sesuatu yang dipertahankan umat manusia untuk kelangsungan hidupnya. Alasan untuk tujuan lebih lanjut, yaitu pengakuan. Di sisi lain, ini juga adalah alasan berjuta-juta orang untuk lari dari kenyataan karena terperangkap oleh identitas yang melekat padaya, yang membuatnya merasa itu merupakan hambatannya untuk meraih tujuan lebih lanjut tersebut, yaitu pengakuan sebagaimana telah saya sebutkan tadi.

Berbagai faktor dan ciri khas bergabung menjadi suatu kesatuan yang membentuk pribadi seseorang. Latar belakang, lingkungan, kondisi selama tumbuh, pergaulan, dan banyak lagi faktor yang tidak dapat dirinci satu persatu menyebabkan dampak akumulatif terhadap perkembangan fisik maupun psikologis. Namun pada dasarnya, setiap manusia mempunyai gambaran masing-masing tentang apa yang mereka mau orang lain ketahui tentang siapakah dirinya.

Bayangkan ketika seseorang tak dikenal menanyaimu, “siapakah kamu?”

Lantas jawaban seperti apa yang akan teman2 berikan secara spontan?

Beberapa mungkin akan menyatakan jawaban polos seperti ‘saya makhluk Tuhan’, atau jawaban ortodoks seperti ‘saya shofi awanis’, jawaban berbasis gender seperti ‘saya perempuan’, jawaban profesi seperti ‘saya pelajar sekaligus debater’, jawaban nasionalis seperti ‘saya orang Indonesia’, ataupun jawaban ekstrim seperti ‘saya pembunuh berdarah dingin’.

Apapun jawaban yang kita pilih, itu merupakan audiovisual dari kepercayaan dan keyakinan tentang sebuah identitas yang melekat dalam diri kita. Namun sadarkah, bahwa terkadang apa yang kita percayai belum sepenuhnya bisa terealisasi dalam pembawaan keseharian kita. Kita mengaku sebagai makhluk Tuhan, namun sering kita lupa membubuhkan wijen dalam bentuk ibadah dan perilaku baik dalam keseharian. Mengaku sebagai perempuan/laki2, namun tidak bersikap sesuai kodratnya dengan alasan gaya hidup metroseksual. Mengaku sebagai orang Indonesia, namun apatis terhadap segala bentuk partisipasi sebagai warga negara. Mengaku pelajar namun tidak pernah mau belajar atau pun sekedar mengambil pelajaran.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, identitas seperti apakah sebenarnya yang kita butuhkan?
Apapun. Mari kita belajar dari sang onde-onde. yang tidak akan mengaku sebagai onde-onde sebelum punya kelengkapan dari yang paling besar sampai paling kecil. Dari yang penting sampai yang remeh.

live your life! 🙂

 

wrote at:

_2 Februari 2010_

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s