Inner Thought

Jadi Nemo!


Ada masa, dimana kita memandang rendah diri sendiri. Merasa semua yang kita lakukan nggak ada gunanya. Nggak tahu lagi harus ngapain untuk merebut kembali rasa percaya diri. Kita lelah dengan semua kata-kata motivasi. Kita muak dengan petuah orang ngomongin inspirasi. Kita cuma butuh ngerti, apa sebenarnya yang bener-bener kita cari.

Masa-masa seperti itu biasanya datang ketika berada di sebuah lingkungan kompetitif yang menempatkan kita di posisi inferior. Padahal kita sudah sedemikian terbiasanya dengan predikat superior. Kita jadi berpikir, apakah yang salah dengan diri kita, sampai-sampai semua yang kita ingin tidak bisa kita capai, namun dengan mudah dicapai oleh orang. Terlebih ketika orang tersebut adalah orang-orang terdekat. Sakit ya?

Krisis identitas. Karena ternyata ekspektasi nggak jodoh sama realita.

Ekspektasi, kadang bikin malu hati. Ekspektasi, kadang lebih tinggi dari nyali.

Nyali? Tunggu dulu. Sebenernya apa sih parameter sebuah nyali? Apakah ketika kita punya mimpi tinggi terus dikejar mati-mati-matian (saya nulis mati tiga kali buat kasih penekanan, sometimes kamu emang harus mati suri dulu buat mulai hidup lagi), ataukah ketika kita udah ngukur kemampuan dari awal dan mengeset mimpi sesuai limit kemampuan?

Bagi saya, limit itu tidak ada! Limit cuma garis imajiner yang kita ciptakan sendiri biar tidak terluka. Bikin excuse lah bahasa masa kininya. Wajar, self-defense mechanism. Human typical. Kekecewaan terhadap diri sendiri itu adalah pedang liar yang sahih dipake buat harakiri. Nah karena ini cuma garis imajiner, pikiran kita punya kuasa penuh untuk mengeliminasi garis ini.

“When you push yourself to your limit, you’ll realize there is no limit”

– (Paulo Coelho)

Nah ini dia yang selama ini saya lihat dijadiin pedoman oleh orang-orang yang saya kategorikan hebat. Parahnya, orang-orang hebat ini ada di mana-mana, di sekitar saya, dekat sekali. Orang yang punya otak, punya passion, punya nyali, punya attitude, dan punya ability untuk menggabungkan itu semua jadi satu paket.

Saya pernah minder. Total. Merasa inferior di sekumpulan superior. Sampe menjauh dari pergaulan. Sampe nggak pengen tau temen-temen sedang sibuk mengukir prestasi apa. Sampe akhirnya saya sadar satu hal. Ketika kita merasa minder, harusnya bersyukur. Karena itu artinya kita sedang berada di lingkungan yang tepat. Tepat untuk refleksi, tepat untuk tercambuk, tepat untuk tumbuh. Coba kalo terus-terusan ada di zona nyaman. Kasian. Pasti gak ngerti artinya pas Socrates bilang, “the more I know the more I know I don’t know.”

Ada dua opsi. Jadi ikan besar di kolam kecil, atau jadi ikan kecil di kolam besar.

Mau dianalogikan sebagai ikan yang mana nih? Ikan versi zona nyaman, apa ikan versi petualang? Atau mau digabung? Lihatlah Nemo, dia nyaman dengan petualangannya. Keren kan. Nah syarat buat jadi keren kayak Nemo adalah berani menghadapi rasa takut. Berani mengeliminasikan limit ketidakmampuan yang kita buat sendiri. Perkara mau sukses atau enggak ya dipikir belakangan. Toh pasti ada alasan kenapa filmnya diberi judul Finding Nemo, bukan? Mungkin karena perjalanan hidup memang tentang menemukan, apa yang pas untuk kita dan apa yang enggak. Dan ketika ketemu, berjuanglah untuk itu sampe titik darah penghabisan. Kalo enggak kunjung ketemu, puter haluan, mungkin jalannya salah. Jangan bosen untuk ngulang lagi dari awal. Ini yang selalu saya pelajari dari orang-orang hebat di sekitar saya. Beberapa orang yang kamu lihat sukses memang terlihat sangat beruntung. Tapi di balik itu semua, ada usaha yang setimpal dengan hasilnya.

Saya percaya pada keberuntungan yang diusahakan. Saya sedang mencoba mengeliminir limit. Saya sedang berusaha jadi Nemo.

Takut? Syut syut! Hapus. Percaya, kalo kita bisa jatuh sangat keras, artinya kita pun bisa mantul sangat tinggi. Sincerely, sudah kebal jatoh tapi masih belom kapok-kapok nyoba terbang. 🙂

Advertisements
Standard

2 thoughts on “Jadi Nemo!

  1. Huah! Berasa inferior, bener banget. Sering banget berasa minder kalo di deket temen-temen yang sering berprestasi. Tapi ada perasaan yang gak mau kalah dari mereka, menurutku perasaan kompetitif itulah yang nanti push off our limit.Tulisannya mba yu ku yang cantik ini bagus sekali, makasi ya dah mampir-mampir ke blogku. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s