Short Stories

Menghampiri


Aku tidak percaya pada kebetulan. Kebetulan hanya penjelasan orang yang tidak mau susah untuk melihat sesuatu yang telah dirancang mahasempurna.
 
Bukan kebetulan jika aku pernah mendengar namamu entah dimana. Bukan kebetulan jika aku pernah melihat wajahmu seakan kau datang dari masa yang lama. Bukan kebetulan pula jika sejak pertama kita bertemu dan berbincang, aku langsung menginginkanmu, untuk luruh dalam ceritaku.
 
Kau tidak pernah tahu kan kebetulan yang ku rancang untuk dapat berada dalam jarak sedekat ini? Meski ketika akhirnya kau deteksi keberadaanku di sekitarmu, aku beranjak pergi. Belum siap untuk dihampiri.
 
Walau kemudian ketika ku lihat kau meringkuk kesakitan dari jauh, sendirian, ada hujan yang menghujam dari langit di atas kita. Aku menahan diri untuk tidak berlari kesana. Rasanya seperti menahan bongkahan batu besar yang menggelinding dari atas bukit. Merajamku dengan kejam.
 
Aku mau memelukmu kalau kamu mau. Sayangnya kamu tidak mau. Atau mungkin tidak tahu. Dan menopangmu belum jadi kapasitasku. Jadi disinilah aku, mendoakanmu. Doaku memang sederhana, mudah terlupa. Tapi hanya itu yang aku punya. Setidaknya saat ini, sampai kita berani saling menghampiri.
Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s