Inner Thought

Berjalan Sendiri


Waktu kecil berjalan sendiri adalah sesuatu yang paling ku hindari. Paranoid sendiri. Setiap kali terpaksa berjalan sendiri di tengah keramaian aku selalu merasa ada saja yang mengamatiku dari kejauhan, seperti menertawakan. Kasian, tidak punya teman. Terpaksa aku menunduk dan mempercepat langkahku, berharap agar jalanan tidak terlalu pajang. Sepatuku sudah usang. Itu dia, perasaanku kurang lebih sama sepertinya, terbuang. Hanya saja sepatu ini tidak repot-repot menyembunyikan dirinya. Tentu saja, apapun yang dilakukannya dia tetap sepasang. Tidak pernah sendiri, seusang apapun!

Beranjak dewasa caraku melihat perjalanan panjang berubah pelan-pelan. Aku tidak lagi malu berjalan sendiri. Tidak takut dilihat aneh dan kesepian. Tentu saja, berjalan sendiri adalah simbol independensi. Siapa yang butuh jadi sepatu tua yang selalu berdua tapi tidak berfungsi jika tidak ada pasangannya? Alienasi adalah sebuah intisari dari kehidupan. Refleksi sebuah pilihan. Berjalan sendiri, mengkalkulasi setiap jengkal pertanda. Apalah arti kekuasaan, jika kita tidak punya kendali atasnya. Maka aku kini, mengerahkan semua kendali atas prasangkaku terhadap tertawaan orang. Berhasil. Sekarang setiap aku melangkah sendiri yang ku saksikan adalah decak kekaguman. Yang ku dengar adalah tepuk tangan. Bahwa untuk melangkah aku tidak butuh navigasi lain kecuali kepalaku sendiri. dan kaki tangguh yang sanggup membawaku kemanapun menuju.
Ada yang bilang bahwa bukan batu karang yang menghentikan langkah kita, tapi kerikil kecil di bawah sana yang luput dari pandangan mata.

Aku lupa.

Sampai pada saatnya terantuk dan tergelincir jatuh. Sakitnya bukan memar inderawi. Tapi ego yang terluka, tidak siap bahwa dalam langkah yang begitu anggun dan mantap, ada gaya gesek antara sepatu dan kerikil yang lupa diperhitungkan. Salah perhitungan. Terlalu mantap berprediksi-ria.

Prediksi! Itulah kenapa manusia diingatkan untuk berusaha, lalu berikhtiar. Karena doa sesungguhnya bukan hanya sekedar rangkaian diksi. Ada titik kepasrahan yang berada di puncak alienasi yang dengan kesadaran penuh, kita lakukan sendiri. Titik kepasrahan yang ternyata pernah ku abaikan. Tertohok, kini siklusku mundur lagi. Jadi bocah kecil lagi, yang takut berjalan sendiri. Yang merasa usang dan terbuang.

Sebuah gelombang kesadaran menghantamku dari belakang.

Ini adalah cara Tuhan mengingatkan, bahwa walaupun sedang melangkah sendiri, kita ternyata tidak pernah benar-benar sendirian.

Dengan pemahaman baru, sebuah cengiran terbit janggal di wajahku yang sembab oleh air mata sejak dua hari yang lalu. Ternyata ini perjalanan. Ku seka luka tak kasatmata ini dengan jumawa. Kemarin dan hari ini boleh terduduk tak berdaya, tak bisa apa-apa. Besok mulai jalan lagi. Jangan lupa dengan Yang Maha Menciptakan Perjalanan.

PS: Ya Allah, aku sudah siap berjalan lagi. Tidak sendiri, kali ini denganMU! 
Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s