Short Stories

Perfect Stranger Part 2


Jika ada yang ku benci dari kebetulan, itu adalah mengapa aku bertemu kamu di sini, saat ini. hilang sudah niat awal untuk mendalami psiko-analisis dan new-media di perpustakaan ini. Berganti moment kosong yang ku habiskan untuk duduk di belakangmu, memandangi punggung dengan jaket hitam yang fokusnya sedang bertumpu pada tumpukan buku di depanmu. Gita, sahabatku satu-satunya yang tau, dia tertawa melihat perubahan ekspresiku dan keringat dingin yang berbekas di telapak tanganku. Dia membiarkanku dalam kesendirian di sudut ini, dan kau di sudut sana. Asyik saja rasanya, pura-pura mengetik lincah dengan properti seperti semua orang yang sedang ada di sini, dengan jurnal yang bertebaran di meja dan langkah yang lalu lalang dari rak kategori satu ke kategori lainnya. Padahal yang ku lihat hanya kamu. Padahal yang ku tuliskan adalah kebodohanku yang tidak berani menyapa. Padahal yang ku umpat dalam hati adalah mengapa saat ini yang ku kenakan adalah pakaian rombeng pink-kuning terang yang membuatku terlihat sangat ­remaja dan tidak setara denganmu yang dewasa di ujung sana. Bahkan sindrom influenza yang menyebalkan ini membuat tampangku jelek dan tidak sempat berdandan tadi. Mengapa aku bertemu kamu disini, saat ini???

Hai kamu yang di sudut sana, kamu mungkin tidak memperhatikanku. Kita memang kenal dan sempat berbincang, tapi tidak pernah bertatap muka. Lebih tepatnya, aku bertatap denganmu dua kali, pertama saat aku memutuskan untuk mengagumimu hingga detik ini. kedua saat ini, sepersekian detik saat bola mata kita beradu pandang lalu ku alihkan. Aku tak mau berinteraksi denganmu dalam jarak sedekat ini. aku tak mampu. Bahkan aku tak bisa bergerak ke sudut sana, dimana tumpukan jurnal yang sebenarnya ku butuhkan berada di dekatmu.

Haha, lucu. Kau bahkan tidak akan pernah berpikir sampai sedetail ini. tapi ketahuilah, aku memang ingin mengagumimu dengan sederhana.

Sekarang aku jadi bertanya-tanya, siapa gerangan wanita cantik berjilbab coklat yang ada di sisimu? Kalian tampak asyik berdiskusi dan sesekali tertawa pelan. Sahabatku sudah pergi. Aku? Cuma bisa menelusuri timelinemu. Berharap menemukan sesuatu informasi yang bisa menjelaskan tentang keberadaanmu disini. Tenang saja, aku stalker yang baik. Tak akan mengganggumu sedikitpun. Cuma izinkanlah aku menikmati pertemuan kita.

Karena ku kenal kau sejak lama..

Dan kau cuma kenal aku lewat nama…

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s