Indonesia

Suatu Hari di Malioboro



Sebagaimana judul yang saya pilih untuk tulisan kali ini, suatu hari di Malioboro. Saya mau bercerita tentang hari kemarin, ketika saya menemani teman saya berjalan-jalan di sekitaran Malioboro. Dua hari dengan orang orang yang berbeda-beda. tapi senangnya sama 😀
Malioboro emang ciri khas Jogja. Jantungnya seni, budaya, bisnis, modernitas, tradisionalitas, masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Tempat dimana kamu bisa merasa santai bahkan ketika rush hour. Tempat dimana bisa berkelana dan mengeksplor sudut2 baru yg nggak bakal ada habisnya. Mencari inspirasi, bersenang-senang, menghabiskan uang, atau sekedar ingin menyepi dan mengasingkan diri di tengah keramaian.
the art of enjoying your life! ahaha.

Entah mengapa saya seperti punya keterikatan sama tempat ini. Saya suka sekali kesini, bermain2. dengan teman2, ataupun cuma sendirian. Karena disini menyenangkan. Karena saya suka bersenang-senang. hehe.
anyway.. mumpung masa liburan semester, di tengah-tengah kegalauan akademik, daripada duduk diam memantaui KHS dan nilai2 yang mulai bermunculan satu-satu, atau memikirkan sponsor mana yang kira2 mau kasih tiga ratus juta (meen!!) buat JOVED ntar juli, kemarin saya escape ke Malioboro. Nggak banyak dan nggak baru2 amat emang, tapi worth to tell, worth to makes you feel what i feel 🙂

DAY 1

1. Mall Malioboro

Nganter proposal sponsorship keliling jogja. Saya sama seorang rekan saya, awalnya cuma niat ngabisin waktu di MM sambil nungguin waktu istirahat kantor habis. Di sini kita cuma muter2 aja sambil liat2 etalase, mendekati barang2 diskon sok2 milih walau nggak beli juga, mengomentari manekin yang terlihat cantik dan menawan berpose under the spotlight dengan baju, tas, sepatu branded yang kami tau, kalau itu dipake sama orang pasti tetep nggak bakal semenawan itu jadinya. Lirik2 bule, cekikikan ngeliat orang2 yang stylenya agak lucu, dll. Yes, woman do that! Hal2 nggak penting tapi bisa membawa kepuasan tersendiri.

Nah, saya, setiap kali ke sini punya tradisi yang hampir nggak pernah kelupaan. Ice cone McD! hehe. biasanya sehabis dari pintu masuk pasti belok kiri dulu. Beli ice cone, terus dibawa jalan2 dalem mall. Tau nggak, menurut saya, ice cone McD itu harus dimasukkan ke dalam salah satu keajaiban dunia! gyeheheheh, sumpah itu enak banget. Terjangkau pula. Tekstur es krimya yang creamy2 gimanaaa gitu, lembut dan pas. vanila yang yummy. Calories? well, this is the only exception. I DON’T CARE. gyahahaha.. pokoknya i give my credit to mister Mc Donald deh yaa sudah berjasa dalam menciptakan surga dunia. hahaha. temen gua bilang gua lebay gara2 ini btw. biarin! ;P

Hari itu rekan saya sedang galau yang sejadi2nya. jadi kami, dengan berbekal mesen ice cone doang (hihi), duduk di sudut McD MM, dan melewatkan sesi curhat yang lumayan lama.
Bagi para wanita, cerita adalah sebuah jalan untuk membagi pikiran, mengurangi beban, dan mengekspresikan perasaan, dan yang paling penting, memanusiakan diri. Wanita dan pria memang berbeda. saya pernah baca sebuah perumpamaan. Ketika mempunyai masalah, wanita akan mengundang semua temannya ke rumah dan bercerita, sementara pria akan menyepi dan mengasingkan diri di dalam gua. Well, kinda true. Dari sudut pandang wanita, curhat dengan teman itu penting. Bukan untuk menyelesaikan masalah, bukan itu poinnya, tapi untuk langkah awal dari sebuah healing process.

Everyone needs a shoulder to cry on,
Everyone needs a friend to rely on.
(Tommy Page – A Shoulder To Cry On)

2. Taman Budaya

Taman budaya ini adalah salah satu objek yang paling sering dituju wisatawan kalau ke Jogja. Pagelaran, pameran, pertunjukan, maupun kegiatan eventual hampir setiap waktu diadakan disini. Kalau mengenai art dan seni, Jogja memang tak pernah mati.
Kebetulan kemarin waktu saya ke sini, sedang ada pameran lukisan. Awalnya nggak ada niat kesini sih, cuma kerena kebetulan saya mau sholat di mesjid dekat TB, jadi ya sekalian aja mampir ke pamerannya. Pertama masuk, auranya udah nggak bisa digambarkan aja. Dinding2 dipenuhi lukisan, beserta keterangan judul dan pelukisnya. Hall yang luas itu jadi terasa senyap, tapi saling bercerita.

Jujur saya bukan tipe orang yang freak sama lukisan, saya bahkan kadang2 gak ngerti dan susah mengartikan makna tersirat di dalamnya. Saya bingung kadang2, kenapa orang2 rela menghabiskan berpuluh2 juta demi sebuah lukisan, kenapa orang2 rela memburu karya Picasso, Da Vinci, Affandi, dan semua maestro seni itu dan mempertahankannya seharga nyawa mereka. Tapi hari itu, sebuah pemahaman mulai masuk ke alam bawah sadar saya., mematrikannya dalam ingatan dan memadukannya dalam perasaan. Dalam, dan menakjubkan sekali efeknya masih terasa sampai sekarang.
Saya baru tahu rasanya jatuh cinta sama lukisan. Jatuh cinta yang benar2 sampai merona, melonjak2, dan terhanyut riang oleh salah satu lukisan kontemporer yang full-colour. Judul lukisannya “Re-Shape of Love”, kalau saya nggak salah. Sayangnya saya lupa mengingat nama pelukisnya 😦
Satu lagi, ada lukisan yang sangat kontras sama yang saya sebut itu. Ketika saya berdiri di depannya, mematung, dan menatap lurus ke dalam kanvas. Yang ada hanya perasaan kosong, dingin, sepi, dan rapuh. Seakan semua kehangatan yang menyelimutimu perlahan mengendap meninggalkan. Judulnya “Hujan Terasa Kejam”, yang saya juga lupa pelukisnya siapa. Lagi, saya baru tahu rasanya patah hati karena lukisan.
Subhanallah,, betapa sebuah benda mati tak bergerak dapat seketika memutarbalikkan perasaan dan membawanya ke sebuah pemahaman yang tak perlu kata, gerakan, maupun suara. Pesan tersampaikan. Saya merasakan.
:’)

Shopping center terletak di samping taman budaya. Ini adalah pusat jual buku2 baru maupun bekas yang terkenal di Jogja. Koleksi buku yang lumayan lengkap dan sangat murah jadi buruan orang2 terutama akademisi, termasuk saya, yang menjadikan tempat ini sebagai referensi terutama saat semester baru dimulai. hehe.
Kami parkir di sini. Selanjutnya ingin berkelana kemana kaki mau melangkah..

3. Taman Sari

Karena tema hari itu adalah menggelandang dan spontanitas, kami berjalan2 di sekitar jalan. Makan bakwan kawi di pinggir jalan. Jangan tanyakan tentang higienitasnya, karena kami sedang tidak peduli. Yang pasti waktu itu duduk di pinggir jalan sambil menonton mobil, motor, becak, dan andong yang lewat, serta memandangi awan2 yang teduh jadi prioritas yang tak tergantikan. Wait, becak! aha! Lalu kami memutuskan untuk berkelana pake becak.

Tujuan kami Taman Sari. Tempat ini juga jadi objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan. Bangunan bekas
taman istana Keraton Yogyakarta pada zaman dahulu. Sepanjang jalan cuacanya sangat kondusif untuk berjalan2, tidak panas dan tidak juga hujan, hanya mendung tapi cerah. It’s like, the universe conspires to make us happy! ^^
Apalagi di atas becak, angin sepoi2, melewati perkampungan budaya yang tersusun dengan sangat apik, dipenuhi toko2 oleh2 khas Jogja macam bakpia, kaos dagadu, makanan gudeg, batik, kerajinan tangan, dan sebagainya. Pusat industri kecil yang tersebar sepanjang jalanan menuju Taman Sari ini rata2 sudah berdiri sejak lama dan menjadi industri keluarga. Memutari alun2, melewati pintu masuk keraton, melihat orang2 backpackeran yang juga bahagia karena cuacanya enak. Sampailah kami di Taman Sari. Bapak tukang becaknya kami suruh tungguin. wkwk.
Di sana tiket masuknya cuma 3rebu. Masuk, disambut sama guide yang berasal dari abdi dalem keraton. Sebenernya kami nggak minta diguide sih, tapi ya nggak papa lah.. hehe. berjalan ngeliat reruntuhan bangunan yang dulunya merupakan tempat tinggal sultan dan selir2nya. Kata si bapak ada 40 selir dan mereka hidup rukun bersama2. whooa,, i wondering gimana ya perasaan permaisuri, punya saingan 40 orang gitu. *__*
Jadi kami digiring ke kolam pemandian istri2 dan putri2 sultan. Kolam ini sangaaat cantik, seriously! banyak yang foto2 disini. Tapi kami enggak. huhu., soalnya si nukiyem 5610 lagi lowbath, dan bb saya kameranya jelek. jadi yasudahlah, skip foto2 session.
habis itu digiring ke masjid bawah tanah keraton zaman dulu. Untuk menuju sini, kita harus melewati perkampungan penduduk yang rata2 rumahnya para abdi dalem dulu. Lalu sampai ke istana zaman dulu, kami liat2 kamar, lemari, dapur, tmpat tidur mereka dulunya. lalu ada lorong yang menuju ke bawah tanah, and that’s obviously fascinating.
Saya suka sama bangunan2 klasik, terutama bangunan khas eropa abad pertengahan. Pilar2 yang tinggi, langit2 yang luas dan bersekat2, dan pola yang cool. Tapi Indonesia nggak kalah cool!
Membayangkan betapa orang2 zaman dahulu adalah arsitek yang sangat ahli. Bangunan yang besar, mempesona, dan kokoh selalu jadi ciri khas. Bayangkan, mereka bahkan nggak sekolah arsitektur tinggi2 kayak sekarang, gak perlu titel, gak perlu ijazah. Hanya mengamati dan pengalaman, serta ilmu turun temurun, bisa menghasilkan mahakarya kayak begini cobaaaa! Nah zaman sekarang, bangunan2 bagus dibuat sama arsitek (yang katanya) profesional, tapi cuma tahan berapa taun. booooo….. >:P

Nggak bisa lama2 di sini, karena si bapak becak sudah nungguin. hihi. Jadi kami bergegas balik ke tempat asal, setelah ngasih sedikit tips buat si bapak guide 😉
Terus setelah kelelahan mendaki menuruni tangga, kami kembali menghempaskan diri di atas becak. Menikmati aja perjalanan pulang dengan hati gembira.

4. Jalanan Malioboro

Waktu semakin sore, saya dan rekan saya kepingin mengitari jalan saja. Sebentar2 berhenti di tempat orang jualan barang2 yang menarik. Mempraktikkan ilmu tawar menawar, membuktikan bahwa memang benar konsumen adalah raja. haha. Alhasil beberapa kalung etnik, dress, dan sebagainya berhasil saya dan rekan saya bawa pulang dengan senyum penuh kemenangan. kekekekkkk~
Asyiknya berjalan2 di sini, kita bisa sesuka hati melihat2 barang2 yang unik dan lucu2. Biasanya sih kalo wisatawan dari luar pada beli di sini buat oleh, tapi kita kan turis lokal ya bok ya.. jadi cuma nggelandang biasa aja. Di jalanan ini kehidupan benar2 sedang diperjuangkan. Orang cari duit, orang membelanjakan duit.
Selain yang jualan, banyak juga peminta2, tapi banyak juga seniman jalanan. Nah kadang saya salut sama seniman jalanan ini, mereka menyajikan sesuatu yang fresh dan unik, sehingga orang menikmati dan memberi,, bukannya kasihan atau terganggu. Itu salah satu sisi khas Jogja, masyarakatnya kreatif 🙂

Teman, saya mau cerita juga tentang magisnya jalan malioboro di petang hari. Mungkin cuma saya ya, nggak tau, tapi saya sangaaaaat suka suasana jalanan ketika sore menjelang malam. Cobalah kalian cari spot yang nyaman, menghadap jalan, dan duduk saja selama golden time itu.. Saya sarankan untuk orang2 yang sendang ingin menyendiri, tapi tak mau terpisah dari keramaian. Jadi moment2 itu akan sangat precious dalam versi saya. Mendengarkan alunan azan yang bergema dari masjid sepanjang jalan, memandangi horison yang mulai jingga dan sapaan angin yang menjadi dingin. Mengamati langkah kaki orang, roda kendaraan yang berputar, kios2 yang tetap ramai, lampu2 jalan yang mulai dihidupkan, bau alam yang menyambut datangnya malam. dan puffff…tiba2 aja ada perasaan yang nggak bisa diungkapkan dengan kata.
Trust me, i love being there at that moment! 🙂

Bertolak balik ke tempat awal, parkiran shopping center di sebelah taman budaya. Remi, si motor saya yang paling keren, sudah menunggu tuannya dengan gelisah tapi sok jumawa. Terang aja, di parkiran tinggal dia doang, maafin mama yah remiii :-*
Sholat maghrib di masjid sebelah shopping center dulu. Saya merasakan sebuah ketenangan dan perasaan haru yang tak terlukiskan saat itu. Saya berpikir tentang banyak hal. Saya merindukan saat2 tertentu dan mendapatkan moment yang tepat untuk merenunginya. Semesta benar2 berkonspirasi untuk membuat saya mendapatkan pemahaman baru yang mendewasakan. Di golden time, di Malioboro 🙂

pulaaang….


DAY 2

Besoknya saya pergi lagi ke Malioboro, tapi kali ini eksplorasi dilakukan beramai2 dengan teman2 saya dari alumni asrama KUSMANSA Pemali. Grasias! Mumpung ada senior datang jauh2 dari Palembang, jadi kami mau mengajaknya berjalan2 di kota yang pasti membuat jatuh cinta ini..

1. Beringharjo

Niat awalnya sih mau nemenin belanja, tapi saya datangnya telat (my bad.. hehe) dan ternyata ada problem teknis di pembagian kendaraan. jadilah kesorean datengnya. Tapi masih sempat berkelana bentar di pasar tradisional ini. Pasar Beringharjo ini emang surganya bagi para wisatawan, terutama cewek2, yang hobi belanja dan tahan nawar. Lantai pertama dipenuhi pedagang2 batik yang terbagi dari banyak kios2 kecil gitu. Semakin ke belakang sebenernya makin banyak juga kios2nya, tapi yang di belakang nggak seramai yang di depan, soalnya rada tersembunyi tempatnya. Tapi saya hobi menyelinap2 ke belakang dan melihat2, hehe. Sejenis pasar Sukawati Bali lah tipenya..
kalau di lantai 2, banyak juga dagangan baju2, sepatu2, aksesoris, pernak pernik, hiasan, dan juga properti2. Lantai 3 juga sama. Saya kalo ke sini pasti ngunjungin toko raja murah di lantai 3, disitu pusatnya busana muslim yg lucu2 dan murah2. Serius, bisa kalap kalo disini mah.. haha.

Btw, saya jadi inget satu slogan keren…

SHOPPING IS CHEAPER THAN A PSYCHIATRIST!!!

Lol.

2. Jalanan Malioboro (lagi)

Sebenernya planning awalnya mau ke sekaten. Sekaten itu sejenis pasar malam yang dipenuhin hiburan2 gitu di selatannya Malioboro. Eventnya gak rutin, kebetulan lagi ada, jadi kami mau kesana. Tapi uh la la..rencana tidak tercapai, sodara2! Awan mendung sudah tak kuasa menahan diri, hujan lah semesta. Kami ber-6 yang sedang asyik2nya berjalan spontan cari tempat berteduh. Saat itu cuma ada pohon utk berteduh yg terjangkau, jadi pada nyempil2 di bawah pohon bersama orang2 yang juga bernasib sama. hehe.
Lucu aja jadinya liat kita,, akhirnya pada mutusin buat berteduh di tempat yang lebih proper, yang at least atapnya dari genteng, bukan daun. haha.
jadi yaudah, tanggung basah, kami lari ke Mirota Batik yang dekat dari situ. Saat itu golden time lagi. Saya senang saat berlari di bawah hujan di sepanjang jalan itu.. Feels like a kid, i wanna dance under the rain evenmore! >.<
Seperti yang telah tertebak, basah kuyup tak terelakkan dong! hehe.

And it’s funny when right after that, someone over there texting me.
“adek kakak gak bakal ujan2an, dia tau cara jaga dirinya.”
jdessskkkk.. telat ooi! gyahahaha..
tapi gimanapun, if you read this, i want you to know, i do love you! ;p

haha.. jadi malu. :”>
skiiippp…!!!

jadi yah begitulah akhirnya.. dua hari saya dapat kesenangan di tempat ini.
cuma sempat mengabadikan moment terakhir jalanan Malioboro di kala hujan.
apa yang saya suka dari perpaduan sore itu? Aspal, Air Hujan, dan Lampu. Serta keindahan yang tercipta dibalik kesederhanaannya 🙂

Advertisements
Standard

One thought on “Suatu Hari di Malioboro

  1. Cerita yg bagus dan menarik.Aku sepakat kalo Malioboro adl tempat yg ajaib, jika kita kesana, kita serasa di dimensi yg berbea dan tempat yg pas utk sejenak pergi dr rutinitas.Terima kasih utk beberapa informasi.Ada beberapa hal yg br aku sadari stlh membaca tulisanmu ini, terutama tempat belanja^^Doni Febriando

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s