Inner Thought

Apalah Arti Sebuah Kata?


 

Apa kamu percaya dengan kekuatan sebuah kata? Apa kamu percaya setiap kata mengandung energi positif dan negatif? Saya percaya. Karena memang kekuatan atau kelemahan yang kita rasakan itu disugesti dari pemilihan kata yang kita gunakan. Karena itulah dari kecil kita diajarkan untuk menggunakan kata-kata yang baik. Konstruksi sosial, agama, budaya, semua konsep yang mendukung tata cara berbicara yang menurut mayoritas, dibenarkan.

Tapi itu dulu. Konstruksi berubah. Terutama ketika masing-masing dari kita sudah mulai beranjak dewasa dan mulai memposisikan diri untuk tidak semudah itu patuh pada norma. Iya kan? Kita mulai satir dan bertanya-tanya untuk apa terbelenggu dalam konstruksi masyarakat konservatif. Kita mulai menertawakan alur hidup utopis yang terpaksa harus diterima. Apalagi ketika kita sudah belajar, sudah kuliah, sudah mendalami perspektif pemikir-pemikir sosial bangsa Karl Marx, Habermas, dan teman-temannya. Tiba-tiba gagasan untuk memberontak itu begitu menggairahkan. Ngaku deh, keren kan jadi pemberontak?

Nah untuk merefleksikan ini, orang-orang biasanya bermain dengan kata. Muncul banyak sekali ungkapan untuk umpatan. Cacian dan makian untuk sesuatu yang ingin kita lawan mulai disematkan. Ya, mulanya ini ampuh untuk memupuk kekuatan untuk berontak terhadap ketidakberdayaan. Mulanya ini ampuh untuk memupuk patriotisme. Misalnya mengumpat musuh bersama, mengumpat penjajah, pejuang kita dulu melakukan ini untuk menggalang persatuan. Akhirnya terbentuklah kekuatan karena orang disadarkan akan penindasan. Lalu lahirlah perjuangan. Sounds perfect, eh?

Tapi makin hari kok saya merasa this have gone too far ya? Maksud saya, makna yang tertanam dalam kata umpatan itu sendiri itu loh yang sekarang sudah mengalami degradasi. Sudah jadi makanan sehari-hari. Sudah jadi darah daging. Lihatlah dalam pergaulan sehari-hari. Kita mengumpat untuk bercanda, bahkan lebih dari itu, kita mengumpat karena telah terbiasa.

Bukan apa, saya cuma merindukan saat-saat dimana ‘Astaghfirullah’, “Masya Allah”, “Puji Yesus”, atau sebagainya lebih popular daripada ‘anjing’, ‘fuck’, ‘asshole’, dan semacamnya itu. Benar, kebebasan untuk berbicara adalah hak setiap orang. Benar, kita bisa memilih cara hidup sekehendak kita. Apatisme, sarkasme, dan lain-lain, memang sedang jadi trend. Cuma apakah teman-teman pernah berpikir lebih dalam, sebenarnya kita sarkatis untuk apa? Apakah benar-benar dari dorongan nurani karena kita gelisah dan ingin berontak, ataukah hanya karena mau ikut-ikutan trend? Supaya gaul, supaya terdengar keren? Hmm.. kalau untuk alasan kedua, teman, sesungguhnya menurut saya itu tak terdengar keren samasekali. You supposed don’t fuck your friend THAT EASILY.

Memang, saat ini saya sedang mainstream di pandangan konservatif. Tapi bukankah selalu ada alasan dalam konstruksi sosial, agama, budaya yang kita kenal sejak kecil? Bukankah ibu kita memarahi kita dulu waktu kecil ketika berkata ‘bangsat’ adalah bukan tanpa alasan? Bukankah di kitab agama manapun kita selalu dianjurkan untuk menyerukan pujian kepada Tuhanmu, kepada sesamamu? Saya tidak sok suci atau apa, karena kadang saya pun mengumpat. Tapi alangkah indahnya jika kata-kata negatif itu bisa kita tempatkan di sikon yang memang pantas untuk digunakan. Karena saya percaya dengan kekuatan sebuah kata.

Mohon maaf kalau sekiranya saya salah. Ini cuma sedikit kerisauan dari hati yang miris..

 

 

Advertisements
Standard

3 thoughts on “Apalah Arti Sebuah Kata?

  1. Kata menunjukkan jati diri, kelompok dan bangsa,, semakin tinggi derajat seuatu kelompok dan bangsa maka makin indah bahasanyaKata-kata kasar dapat diubah sedemikian halus, bahkan jika pilihannya : kata itu tidak harus diucapkanBahkan memang ada kelompok, dimana kita tidak akan pernah mendengar kata kata "tidak pantas" ituIni tergantung siapa yng mengucapkannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s