Inner Thought

Turning Back A Lover Into A Friend.


September akhir. Dua jam lagi sudah Oktober. Tapi kita masih duduk di sini, di tepi malioboro yang mulai sepi, dengan mcflurry coffee dan coklat yang terasa begitu nikmat. Dan malam yang perlahan menghangat.

“apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan?” sendok pertama mcflurry coffee-ku.

“tak tahu.” sendok mcflurry coklatmu masih kau mainkan.

“apa yang sebenarnya sedang kita jalani?”

“tak tahu juga. Sebuah hubungan ku rasa. Kau ada, aku ada, maka hubungan kita ada. Katamu itu cukup.”

Ah. Dulu aku memang berkata begitu, Sayang. Tak butuh banyak hiasan dan aksesoris, cukup dua komposisi. Kamu dan aku. Semuanya selalu baik-baik saja selama ini, sebaik lampu jalanan di malam hari, atau pohon teduh di siang hari. Cuma sekarang sudah berbeda.

Kau tahu apa yang kau dapatkan jika mengalikan waktu dengan kecepatan? Jarak. Ya, jangan salahkan jika aku semakin membenci fisika. Terlebih ketika ia dapat menjelaskan secara gamblang tentang konsep yang terjadi di antara kita, dan aku benci kebenarannya.

“kita tumbuh dengan cepat. Dunia kita sudah terpisah jauh.” Aku tahu itu sejak lama. Kau pemuja newton, aku lebih suka berguru pada marx. Padahal dulu kita adalah anak kampung yang pengen merdeka. Saat itu kita masih sama. “kita masuki dunia masing-masing dengan sukarela. tapi sepertinya kita tidak bahagia dengan dunia yang kita pilih sendiri ini. Seperti ada yang salah dan membebani”

“tak ada yang salah dengan semua ini, yang sakit itu kepalamu! Yang menambahkan beban itu ilusimu sendiri!” aku diam menulikan diri. Mengira arah pembicaraan kali ini akan sama saja seperti ratusan kali sebelumnya. “tapi aku tak pernah tega melihatmu sakit, dan menjadi sesuatu yang membebanimu.” Aku terhenyak. Bukan itu maksudku.

“kau salah. Akulah yang menjadi beban buatmu!”

“lihat, aku membebanimu dengan membuatmu berpikir bahwa kamu membebaniku”

Lalu kita berdua tergelak sejenak. Blaming game. Sudahlah, ini tidak akan berakhir. Aku keras kepala dan kau tak mau disalahkan. Selalu begitu bukan? Di titik ini kita sudah bisa menakar sejauh mana intuisi kita bekerja dan bertelepati.

“3 tahun ya? Haha. Aku penasaran bagaimana para orangtua kita bertahan.”

“hey, tahukah kau.. mereka pun tiba pada titik terendah seperti ini, suram, bahkan lebih parah. Mereka tidak punya pilihan lagi untuk beranjak . Sementara kita sebenarnya punya, cuma takut tidak terbiasa. Kita takut kehilangan, tanpa sadari bahwa dengan hubungan yang mati seperti inipun kita sebenarnya sudah saling kehilangan.”

“akuilah kita pengecut. Tapi itu adanya.”

“haha. Kau benar.”

“tiba-tiba lucu rasanya mengingat kita pernah berjanji akan bersama sampai tua.”

“ini dunia modern. janji pun punya batas kadaluarsa.”

Ku tinju bahumu. Kau berpura-pura mengaduh, lalu tertawa. Ada dua bule di sudut sebelah sana. Berpasangan, seperti kita. Dalam hatiku bertanya apakah mereka sedang mengumbar banyak janji, menikmati moment indah di Yogyakarta, untuk dikenang saja karena nantinya ketika mereka balik ke negara asal dan kehidupan asli, mungkin batas kadaluarsanya malah jadi lebih cepat.

“satu. Jika kamu memang jodohku, maka kita akan bersatu nantinya, mau bagaimanapun juga. Suatu saat kita pasti akan mengalami kejenuhan seperti ini lagi di dalam sebuah ikatan yang lebih suci lagi. Aku Cuma tidak mau kita terkurung di dalam perasaan suram ini lebih cepat, bahkan sebelum kita mulai beranjak ke tingkat itu. Dua, jika kamu bukan jodohku, maka saat ini kita sedang membuang-buang waktu untuk bertahan pada sesuatu yang ternyata bahkan tidak ditakdirkan untuk dipertahankan.”

Kita hidup di serpihan masa lalu, berusaha mempertahankan mimpi semu tentang masa depan, karena itu kita berdua seperti tidak punya masa sekarang. Masa sekarang, itulah yang sedang mati-matian ku perjuangkan, untukmu juga. Gelombang sendu menyergapku. Tertunduk, ku pandangi saja gelas mcflurryku.

“aku cuma tidak mau berpura-pura semuanya baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.”

“ya, seperti air yang sudah terlalu lama mengendap. Tak punya gejolak atau energi untuk mengalir lagi. Tenang, tapi jadi sarang penyakit.”

“mungkin kamu butuh aku yang lain. Biar hidupmu kembali berjalan. Biar semangat dan antusiasme yang membuatku jatuh cinta pada kamu yang dulu muncul lagi. Aku rindu hal itu. ”

“mungkin. Dan kamu juga butuh aku yang lain, yang bisa mengarahkanmu dan menjadi imam, bukan sekedar pendamping hari-hari. Karena kita sudah bukan kanak-kanak lagi”

“tapi bersamamu aku tak keberatan selalu jadi kanak-kanak”

“tapi jangan lupa kau punya hidup dan tanggung jawab sebagai orang dewasa. Aku juga. Hidupku sedang berada di titik reformasi saat ini. tahu tidak, kamu itu seperti handphone N-Gage yang telah kumiliki dari SMP. Ia tidak berfungsi sebaik dulu lagi, karena itu ku beli samsung touchscreen ini. Tapi sebagaimanapun banyak orang yang menawar untuk membelinya, aku tak mau melepasnya meski N-gage itu tak bisa lagi ku gunakan. Aku cuma tak rela, karena itu punyaku, dan aku telah melewati masa-masa bersejarah bersamanya.”

“haha. Kalau begitu kau juga adalah hp nokia xpressmusic-ku yang fungsinya sudah tidak sama lagi sekarang. Ia rusak dan aku sudah punya blackberry yang lebih mengakomodasi kebutuhanku. Aku sedih karena tak memberikan kehidupan yg lebih baik bagi nokiaku, saat ini dia cuma jadi pajangan di kamar. Bukannya aku tak mau, hanya saja tak bisa. Aku sayang pada nokia bututku itu.”

Akhirnya sampai juga kita pada pengakuan ini. bahwa sebenarnya kebenaran itu senyata apa yang kita lihat, namun kadang-kadang kita hanya mau melihat apa yang kita pikirkan. Tapi tengah malam ini, dua manusia perlahan menanggalkan ego idealisnya dan membiarkan kenyataan menelanjangi mereka. Tak ada rasa malu, tak ada marah dan sakit, yang ada hanya kelegaan yang mengherankan.

Sekarang kita tau apa yang seharusnya kita lakukan kepada hp lama kita itu. Relakan! Bukan relakan dibuang juga sih, tapi lebih ke bagaimana kita merelakan dan menerima bahwa waktu mereka menjadi malaikat kita sudah habis.

“tapi aku masih temanmu kan?” takut-takut aku bertanya. Karena tiga kali terakhir ini kita sempat perang karena statementmu yang mengharuskanku mengambil stance sebagai kekasih atau musuh, tidak boleh di antaranya.

“iya. Kamu teman terbaikku. Tak ada yang mengenalku sebaik kamu”

“kamu akan tetap memegang tanganku kan? Aku akan tetap memelukmu kan? Kamu akan tetap datang ke rumah dan menyogok es krim padaku dan adik2ku? Aku tetap boleh pinjam jaketmu, menyeretmu menemaniku nonton, dan merengek minta diajak keliling jogja di malam hari sampai aku mengantuk di boncengan motormu seperti bayi yang dininabobokan bukan? Kamu akan tetap menerorku untuk masak masakan bangka dan menagih hasilnya kan?” aku panik, dadaku sesak.

“tenang. Kau tak akan kehilanganku.” Kamu tersenyum. Bagaimana mungkin kau terlihat begitu kuat, sekaligus begitu rapuh. Aku takut menyentuhmu, takut memecahkan lagi-lagi. Cukup sudah selalu aku yang menyakiti. Kadang doaku adalah semoga kau menyakitiku, yang mana tak pernah terjadi. Tuhan, aku tak tau kenapa!

“tak akan ada yang berbeda. Ini hanya sekedar soal status. Keesokan hari rutinitas dan sikap kita tetap saja seperti biasa. Yang berbeda adalah pemahaman tentang posisi, dan tentang determinasi hidup kamu dan aku.”

Lalu kita diam dan menghabiskan mcflurry yang sudah sepenuhnya mencair. Aku tau, kamu juga tau isi hati kita masing-masing. Tak perlu bahasa. tak perlu mediator. kita sudah saling memahami.

Aku mengacungkan jari kelingking.

“janji, kali ini tidak ada tangis-tangisan, dendam-dendaman, galau-galauan?” tapi entah kenapa kelenjar lakrimalisku malam ini sedang tidak beres, bendungan air mataku malah tumpah setelah mengucapkan itu. Aku tertunduk marah, kenapa aku mesti menangis.

Kamu menepis jari kelingkingku. Mengangkat daguku dan berkata tepat di depan wajahku, “bodoh. Aku tak pernah percaya janjimu.”

Lalu kita berdua tertawa. Dalam sisa-sisa duka yang tertinggal jauh di belakang. Akhirnya kita temukan jalan untuk mengalir kembali.

Advertisements
Standard

One thought on “Turning Back A Lover Into A Friend.

  1. Hmm….Hari ni tanggal 7 loh *plak! ditabok shofi karna ngomongin angka 7,hahaha*Hmmm…Jadi…Seperti itu..Ku dak bise ngerase lebih dalem karena ku dak pernah punya status hubungan kayak gitu.. tapi… ku bahagia setidak e,,,ade kelegaan di kedua hati dan ikak dak terjebak di antara statemen 'bocah' tu, 'pacar atau musuh',hehehe.Semangatlah shof..semangatlah gemah…Ikak bedue kawan tersayangku.. :-*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s