Short Stories

Midnight Mist


akhirnya dia terantuk pada perhentian. suatu perbatasan dimana tak pernah diperkirakan olehnya akan menjadi bagian dari perjalanan panjang yang telah dirancangnya sejak lama. peta-peta dan catatan perjalanan yang terserak di atas meja bundar itu telah cukup untuk menegaskan, dia adalah seorang petualang tangguh. bau garam dari syalnya yang tergantung di dinding batu juga ikut mengiyakan, bahwasanya sang petualang tangguh ini punya niat sekokoh karang di tepian samudra. namun selain itu dan sisa jejak basah di lantai marmer yang lembab ini, sudah tak ada apa-apa lagi. dia tak ada di ruangan ini. ditinggalkannya saja, karena saat ini, dia terantuk pada perhentian.

malam tak bakal jadi malam tanpa kabut yang membubung perlahan di pertengahannya. tanpa kesunyian pekat yang tercipta saat melingkupinya. begitupun dia. tinggal menunggu kaku. selebihnya ia diam dan memandangi saja bulan setengah lingkaran yang semakin merona. sesekali dirapatkannya tangan untuk memeluk lututnya. dingin memang di pertengahan malam seperti ini. tapi justru untuk itulah ia datang. untuk menemui perhentian. untuk mencari sesuatu yang sudah lama terlupa tapi konon masih ada untuk semua yang berniat mencarinya. maka ia putuskan untuk meninggalkan isi ruangan yang memuja-mujanya, meninggalkan perapian hangat yang dibanggakannya, meninggalkan interior liar yang disketsanya sejak awal. sejenak, hanya sejenak. ia ingin tak menjadi dirinya sendiri untuk saat ini.

lantas ia ingin menjadi apa?
tak tahu. tak ada jawaban. jangan bertanya.

bahkan keheningan yang paling nyaman pun ternyata menyayat. justru itu, justru karena ia diam, maka kau tak pernah tau kapan ia mencabik-cabik hatimu yang rapuh, dalam ketiadaan. justru itu, justru karena ia tiada, maka sulit bagimu yang angkuh dan keras kepala untuk menyadari bahwa sebenarnya ia ada.

ia makin merapatkan pelukannya pada diri sendiri. ditelungkupkan wajahnya ke blokade lengan yang ia buat sendiri bersama lututnya. ia meringkuk seperti bayi. bedanya adalah, ia sendiri. di tengah kabut tengah malam. betapa irinya ia dengan bayi yang saat ini meringkuk hangat di kasur beserta bunda yang memandanginya tanpa kedip sepanjang malam, bersama ayah yang membelai lembut pipinya, dan bersama meninabobokan dengan nada kasih. lalu mereka mengecup keningnya dan bercerita tentang mimpi2nya. bulan bilang ruangan itu penuh cinta. lebih merona dari sinarnya yang bahkan terlihat sampai kedalaman samudra.
ya, itu dia yang dia rasa. ruangan miliknya adalah ruangan terbaik di segala penjuru kota. tapi langit malam bilang ruangan itu lebih gelap dari pekat miliknya sesaat sebelum badai panjang.

lalu kabut semakin tinggi membubung. ia berselimut hampa. dirasakan badannya meringan. ia perlahan ikut membubung. sedikit. sedikit. tinggi. tinggi. semakin tinggi.
mau ke mana dia?
tak tahu. tak ada jawaban. jangan bertanya.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s